+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

Tilas Kelam Vaksin Besutan Eijkman di Era Penjajahan Jepang

Tilas Kelam Vaksin Besutan Eijkman di Era Penjajahan Jepang

Tilas Kelam Vaksin Besutan Eijkman di Era Penjajahan Jepang

Jakarta, CNN Indonesia —

Vaksin   besutan Eijkman   ternyata sempat menapaki sejarah kelam lantaran memiliki fitnah keji dan menjadi kambing hitam ketika era penjajahan Jepang.

Peneliti sekaligus Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman 1992-2014 Sangkot Marzuki bercerita, era tersebut adalah salah satu catatan cerita mengerikan terkait vaksinasi.

Saat itu, beberapa peneliti Eijkman ditangkap dan disiksa Jepang terpaut dengan pemberian vaksin tetanus. Tidak terkecuali Kepala Lembaga Penelitian Eijkman di Jakarta, Achmad Mochtar.


Sangkot bahkan menduga Jepang sengaja menjadikan Mochtar sebagai mempertanggungkan hitam terkait kegagalan vaksinasi tetanus pada masa penjajahan Jepang tersebut.

Wabah tetanus 1944-1945

Insiden ini berlangsung saat Jepang mulai goyang diserang Sekutu pada tahun 1944-1945. Hampir seribu pekerja paksa zaman jepang atau pekerja romusha di Klender, Jakarta, tewas dengan menunjukkan isyarat tetanus yang disertai kejang-kejang.

Sebelum insiden kematian massal itu, atas perintah Jepang, Staf Lembaga Eijkman menyuntikkan cairan vaksin TCD (tifus, kolera, disentri) pada para pekerja romusha.

Menurut penuturan Sangkot, memang masa itu Indonesia hanya memiliki besar lembaga penelitian, yakni Lembaga Pasteur di Bandung (saat ini Bio Farma) dan Lembaga Eijkman dalam Jakarta. Direktur Pasteur Institute adalah orang Jepang, sementara Eijkman dipimpin oleh Mochtar.

Akibat insiden kematian itu, lalu hidup dalih dan tuduhan untuk Eijkman, khususnya Mochtar yang saat tersebut menjabat sebagai direktur. Jepang menyangka Mochtar dan stafnya sengaja menyilih vaksin dengan bakteri tetanus sebagai upaya membunuh para pekerja romusha.

Polisi Jepang mulai menangkap staf Eijkman. Menurut Sangkot, mereka disiksa dengan perlakuan dengan keji seperti dipukul, disetrum, had dibakar.

Karena tak mendapatkan bukti, pada Januari 1945 Jepang membebaskan staf-staf Eijkman di keadaan yang mengenaskan. Dua sinse, Marah Achmad Arif dan Soeleiman Siregar meninggal dunia dalam benduan akibat siksaan. Sedangkan Achmad Mochtar dijatuhi hukuman mati dengan hukuman pancung pada 3 Juli 1945.

Sangkot lantas mencoba memahami peristiwa itu lewat ilmu, berdasarkan pengakuan para penyintas, dan keluarga Mochtar. Alhasil, ia menebak saat itu Mochtar sengaja dikambinghitamkan untuk menutupi kejahatan perang yang dilakukan Jepang.

Tetanus habisi tentara Jepang

Jepang pra proklamasi memang sedang ‘gusar’ sebab tentara Sekutu telah mulai dekat dengan kawasannya. Mereka panik dan membutuhkan sebuah vaksin untuk tetanus. Sebab, saat itu tetanus merupakan salah satu aib mematikan dan berbahaya. Sehingga aib ini mengancam jumlah dan kesiapan tentara Jepang.

“Jadi lebih banyak yang meninggal sebab tetanus. Kalaupun perang, ya mati setelah terkena tetanus itu, ” jelas Sangkot dalam sebuah Celoteh Pra-terbit yang dilakukan secara daring, Sabtu (5/9).

Tetanus bak menjadi musuh tak tampak pada saat itu. Oleh pokok itu, muncul dugaan besar kalau Jepang langsung menguji vaksin tetanus tanpa diuji kepada hewan terlebih dulu. Alih-alih vaksin itu diduga langsung  diuji ke manusia. Situasi itu sangat potensial terjadi, pokok saat itu kondisi Jepang benar terdesak.

Menurut Sangkot, vaksin tetanus dalam teknisnya diuji coba dan dibuat bukan kepada bakteri, namun terhadap toksin atau racunnya. Sehingga, kematian pada tetanus disebabkan karena racun yang dikeluarkan oleh bakteri itu mampu menyusun korban kejang-kejang.

“Jadi dugaannya bahwa kejadian itu berlaku karena Lembaga Pasteur (yang) dipimpin Jepang itu mencoba membuat vaksin. Tapi gagal dalam menetralisasi pada toksinnya, itu dugaan, ” sendat Sangkot.

Sedangkan masa itu, posisi lembaga penelitian hanya dipegang oleh orang Jepang dan Mochtar. Hal itu menjadikan Mochtar sangat mudah dikambing hitamkan pada kejahatan keji dan fitnah kegagalan vaksinasi saat itu.

Kriminalisasi Mochtar

Sangkot bilang, kriminalisasi terhadap Mochtar benar potensial, sebab saat itu tempat Mochtar cukup terpandang. Selain dia menjadi Direktur Eijkman, ia kendati menjabat sebagai wakil rektor sekolah kedokteran Ika Daigaku pada periode Jepang (saat ini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia).

“Ada beberapa faktor kenapa Mochtar dihabisi, salah satunya bahwa kejadian dengan terjadi di Klender itu benar merusak citra Jepang, ” tuturnya.

Selain itu, sebelum eksekusi dijatuhkan pada Mochtar, ia memutuskan menjadi martir dengan menandatangani perjanjian dengan Kempeitai. Dalam konvensi itu, Mochtar bersedia dinyatakan bersalah atas kematian ratusan romusha dan bakal mengakui tuduhan sabotase bila para koleganya dilepaskan.

Oleh sebab itu, bila melihat kelam Mochtar yang wafat pada usianya yang ke 53 tahun. Sangkot merasa tak adil bila nama Mochtar tidak harum pada kalangan anak bangsa.

Pengorbanannya dalam dunia kedokteran wajar dijadikan pengingat bagaimana kepiawaiannya di dalam sains, serta untuk mengingatkan dengan jalan apa kekejian masa penjajahan Jepang era itu.  

“Saya melihat di situ ada ketidakadilan yang dilakukan terhadap Mochtar, ketidakadilan yang dilakukan terhadap Eijkman. & ini saya rasa perlu, bahwa ini patut dianggap sebagai pesan kejahatan perang, ” kata Sangkot.

Sangkot bilang, perkenalannya dengan figur Mochtar dimulai saat Ibunya memberikan sebuah buku bertajuk ‘Drama Kedokteran Terbesar’.

Buku tersebut berisi memoar & pengakuan para sejawat Mochtar yang juga merupakan para penyintas pada kekejaman yang dilakukan oleh Petugas Jepang (Kempeitai).

Di dalam bukunya nanti, Sangkot mengaku bakal menunjukkan figur Mochtar kepada publik sepanjang 320 halaman.

Sangkot tak ragu menyebut Achmad Mochtar sang martir kedokteran pada Tanah Air.  

Kisah kelam lampau yang terjadi pada Mochtar, membuat Sangkot mau mengabadikan sosok sang martir-yang namanya bahkan tak beken dikenal warga, dalam sebuah novel sejarah.

Sangkot dan J. Kevin Baird dari University Oxford mengacu sebuah diskusi sejarah dan memutuskan merangkum kisah kelam Mochtar dalam sebuah buku bertajuk ‘Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang: Tragedi Institusi Eijkman & Vaksin Maut Romusha 1944-1945’.

(khr/eks)

[Gambas:Video CNN]