+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

Sineas dan Pemerintah Korsel Bersiap Bangkitkan Perfilman

Sineas dan Pemerintah Korsel Bersiap Bangkitkan Perfilman

Sineas dan Pemerintah Korsel Bersiap Bangkitkan Perfilman

Jakarta, CNN Indonesia —

Para lihai dan perwakilan pemerintah Korea Daksina berkumpul untuk membahas dampak pandemi Covid-19   dalam industri perfilman dan cara menyelamatkan bioskop kini hingga masa mendatang.

Mereka membahas seluruh aspek pemeriksaan industri tersebut melalui acara bertajuk Post-coronavirus Era: Korean Cinema Prepares for the Next 100 Years yang dihadiri 100 orang.

Di antara yang siap terdapat Wakil Menteri Budaya Oh Young-woo, perwakilan Partai Demokrat Do Jong-hwan, Ketua Dewan Perfilman Korea (KOFIC) Oh Seok-geun, hingga cabang Persatuan Produser Korea.


Ketua Persatuan Pengusaha Korea, Choi Jeong-hwa, menganggap pertemuan ini penting karena walau beberapa film lokal mulai membangkitkan pabrik layar lebar di tengah pandemi.

“Beberapa film musim panas seperti Peninsula dan Steel Rain 2 dirilis sesuai jadwal dan memberikan hasil yang baik terhadap box office. Namun, awak masih belum tahu pasti teks bioskop akan beroperasi normal, ” kata Choi Jeong-hwa seperti dikutip Korea Times .

Jumlah penonton hidup memang meningkat dalam tiga bulan terakhir. Namun, angka itu sejatinya hanya 20-30 persen apabila dibandingkan total penonton di periode yang sama pada 2019.

Berdasarkan data Dewan Perfilman Korea, jumlah penonton bioskop pada semester pertama 2020 menurun 70, 3 persen dibandingkan tahun lalu. Mutlak pengunjung pada Juli 2020 makin menurun 74 persen dibandingkan Juli 2019.

Pemerintah Korea sebenarnya sudah mengambil sejumlah modus darurat untuk menyelamatkan industri hidup dan film. Kementerian Kebudayaan, Gerak, dan Pariwisata Korsel, misalnya, tepat memangkas iuran yang wajib dikasih bioskop hingga 90 persen.

Pemerintah juga mengizinkan bioskop menunda pembayaran 0, 3 komisi itu hingga akhir tahun minus biaya keterlambatan. Rencana itu kemudian dibulatkan dengan koordinasi bersama Departemen Keuangan Korsel.

[Gambas:Video CNN]

Mahkamah Perfilman Korea (KOFIC) juga menanamkan dana 17 miliar won ataupun sekitar Rp199, 3 miliar (1 won=Rp11, 72) untuk membantu pabrik perfilman lokal.

Persediaan itu digunakan untuk memberikan potongan 6 ribu won atau sekitar Rp70 ribu per satu tiket mulai 4 Juni. Biasanya, kepala tiket nonton di Korea dijual 12 ribu won atau kira-kira Rp140 ribu. Potongan itu hanya diberikan akhir pekan demi memikat lebih banyak penonton.

Menurut Choi, bantuan pemerintah invalid menutupi dampak dari virus corona terhadap bisnis film dan bioskop. Ia berpendapat pemerintah Prancis serta Jerman menjadi contoh yang bagus dalam menyelamatkan industri film.

“Korea hanya melakukan kegiatan darurat, sementara Prancis dan Jerman mempunyai rencana dan kebijakan penyelamatan yang secara khusus ditujukan buat mendukung industri perfilman dan adat, ” kata Choi Jeong-hwa.  

Ia kemudian berkata, “Bahkan untuk bantuan dari KOFIC, banyak produser dan distributor hidup yang memerlukan persetujuan Kementerian Ekonomi dan Keuangan. Itu menghalangi efisiensi. ”

Jaminan Kesejahteraan

Lebih jauh, Guru besar Jurusan Sosiologi Universitas Kookmin, Choi Hang-sub, mengatakan bahwa industri hidup dan bioskop harus bisa membenarkan dan menjamin keselamatan serta kesehatan tubuh pengunjung jika kembali ke hidup setelah pandemi Covid-19 berakhir.

“Kunci mendatangkan kembali penggemar film ke bioskop adalah membenarkan kepada mereka bahwa bioskop tersebut tempat yang aman dan tidak menjadi sumber infeksi, ” prawacana Choi Hang-sub.

Sebelumnya, KOFIC sendiri sudah menerbitkan preskripsi jelang pembukaan kembali bioskop. Selain pengecekan suhu dan penggunaan masker, para pengunjung juga dilarang berbincang-bincang ketika menonton.

Jun Byung-yool, salah satu anggota KOFIC, menyatakan bahwa tingkat penyebaran virus bisa ditekan apabila penonton tidak membuka masker, bahkan hanya buat makan dan mengobrol dengan tamu lainnya.

Sementara tersebut, pihak bioskop juga diwajibkan buat mengatur tempat duduk sehingga penonton satu dengan yang lain langgeng dalam jarak aman. Studio wajib selalu dibersihkan dan desinfeksi sebelum dan setelah penayangan film.

[Gambas:Video CNN]

Karyawan bioskop wajib mengindahkan aturan karantina, seperti langsung mengambil cuti ketika demam, batuk ataupun menunjukkan gejala Covid-19, serta kudu sering mencuci tangan.

Selain jaminan keselamatan, Choi Hang-sub juga menilai industri film serta bioskop perlu melakukan pengembangan konten audio-visual serta teknologi untuk semakin menarik perhatian pencinta film.

Direktur Strategi CGV, Cho Sung-jin, juga mengamini hal itu. Namun untuk dapat melakukan pengembangan tersebut, jaringan bioskop membutuhkan sandaran dana dari pemerintah.

“Untuk mengembangkan perfilman Korea, kita perlu memperluas pasar luar negeri. Kita juga perlu mereformasi taksiran pengembangan film dan meminta sandaran dana tambahan dari pemerintah, ” tuturnya.

(chri/has)