+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

Proyek Satelit China-Jerman-Indonesia Rampung Akhir Tahun

Proyek Satelit China-Jerman-Indonesia Rampung Akhir Tahun

Proyek Satelit China-Jerman-Indonesia Rampung Akhir Tahun

Jakarta, CNN Indonesia —

Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Anang Latif mengatakan pihaknya berharap proses pembiayaan  satelit Satria bisa selesai pada kuartal III 2020. Proses pembiayaan sempat tertunda akibat pandemi virus corona SARS-CoV-2.

Menurut Anang, pembiayaan satelit Satria diperoleh dari 50 persen pemerintah China dan 50 persen pemerintah Prancis.

“Harapannya di kuartal ketiga ini bisa selesai proses pembiayaannya. Nanti 50 persen pembiayaan khusus untuk komponen loan yang diperoleh China dan 50 persennya akan berasal dari Prancis, ” kata Anang saat acara Mendorong Akselerasi Transformasi Digital – Peran Infrastruktur TIK secara virtual, Senin (20/7).


Lebih lanjut kata Anang, pihaknya sudah menunjuk pabrik asal Prancis yaitu Thales Alenia Space untuk bekerja sama menggarap proyek satelit Satria.

Sementara roket peluncurnya, BAKTI masih mempercayakan roket buatan SpaceX, perusahaan transportasi luar angkasa milik miliarder AS yakni Elon Musk.

“Sudah dipilih pabrikannya dari Prancis Thales Alenia dan yang ketiga itu satelit peluncurnya menggunakan satelit SpaceX punya Elon Musk, ” pungkas Anang.

Pada Februari 2020, Menteri Komunikasi & Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate mengatakan saat ini proses pengadaan Satelit Satria sesuai dengan target. Ia menegaskan Satria tetap direncanakan akan mengorbit pada kuartal keempat 2022.

Saat ini, Johnny mengatakan pengadaan satelit internet dengan kapasitas 150Gbps ini memasuki tahap financial closing. Tahap ini ditargetkan rampung pada kuartal pertama 2020.

“Kami pastikan kuartal keempat 2022 itu satelit sudah orbit. Namanya commercial operation date. itu kuartal keempat 2022, ” ujar Johnny kepada CNNIndonesia. com , Rabu (5/2).

Proyek Satria menggunakan skema pembayaran ketersediaan layanan (Availability Payment/AP) akan memakan biaya Rp20, 68 triliun dengan masa konsesi 15 tahun. Biaya ini meliputi belanja modal, belanja operasional dan pengembalian investasi yang wajar.

Adapun PT Satelit Nusantara Tiga ini dimiliki PT Pintar Nusantara Sejahtera, PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), PT Dian Semesta Sentosa, dan PT Nusantara Satelit Sejahtera yang semuanya tergabung dalam konsorsium PSN.

Satria telah memulai konstruksi pada akhir 2019 oleh manufaktur asal Prancis Thales Alenia Space. Satelit Satria sudah mulai dibangun pada akhir 2019 dan diperkirakan akan meluncur ke slot orbit pada 2022.

PT Satelit Nusantara Tiga akan menggelontorkan dana sebesar Rp6, 4 triliun untuk membangun satelit tersebut. Setelah satelit beroperasi, pemerintah akan membayar kepada PT Satelit Nusantara Tiga Senilai Rp1, 38 triliun per tahun selama 15 tahun dengan total Rp20, 68 triliun.

(din/mik)

[Gambas:Video CNN]