+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

Penyandang Disabilitas Melawan Stigma demi Hidup Setara

penyandang-disabilitas-melawan-stigma-demi-hidup-setara-3

Penyandang Disabilitas Melawan Stigma demi Hidup Setara

Surabaya, CNN Indonesia —

Peluh di dahi Nanda (25) terlihat mengilap. Uap dari panas oven membuat wajahnya basah oleh keringat. Namun mulut Nanda tak berhenti tersenyum karena kue pie susu besutannya matang dengan sempurna.

Nanda adalah satu dari puluhan penyandang disabilitas intelektual yang tergabung dalam unit usaha bernama Kedaibilitas. Sebuah kedai yang beranggotakan para penyandang disabilitas di Surabaya, Jawa Timur. “Ini pienya sudah matang,” ujar Nanda, sembari menenteng nampan yang masih panas.

Sebelum bergabung di Kedaibilitas, lulusan salah satu SMA Inklusi di Kota Pahlawan ini mengaku sempat mengenyam kuliah di sebuah kampus swasta di Surabaya. Namun itu tak berlangsung lama. Nanda tak betah karena kerap di-bully oleh teman-teman kuliahnya.


“Dulu pernah kuliah, cuma dua minggu sudah keluar, ya [karena] di-bully,” ujarnya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Kamis (9/11).

Setelah memutuskan tak melanjutkan kuliah, Nanda sempat bekerja sebagai buruh kasar di sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Pekerjaan itu, didapatkan berkat pertolongan dari teman ibunya.

Penyandang Disabilitas Intelektual, Nanda 25 tahun. CNN Indonesia/Farid RahmanPenyandang Disabilitas Intelektual, Nanda, 25 tahun. (CNN Indonesia/Farid Rahman)

Namun di tengah jalan, perusahaan itu tiba-tiba memberhentikannya tanpa alasan yang jelas. “Saya sempat kerja di kantor punya teman mama, tapi cuma sebentar,” ujarnya mengenang.

Orang tua Nanda kemudian mendaftarkannya ke sebuah lembaga pendidikan warga negara berkebutuhan khusus. Di samping itu, ia juga bergabung ke unit usaha Kedaibilitas. Alasannya, Nanda ingin membuktikan bahwa dirinya bisa mandiri. Ia tak mau terus bergantung pada orang tuanya. Beruntung, kata dia, ayah ibunya mendukung niatnya itu.

“Saya juga pengin kerja [berpenghasilan] seperti orang-orang lain. Mama papa mendukung saya,” katanya.

Di Kedaibilitas, ia belajar merintis dan mengembangkan usaha bersama para penyandang disabilitas lainnya. Mereka berkreasi mengolah penganan dan kerajinan. Tak hanya itu, bersama para mentornya ia juga berlatih mengelola arsip, surat menyurat dan pencatatan keuangan. Ia yakin suatu saat ia bisa diterima kerja di sebuah perusahaan. “Nanti kalau sudah diterima kerja, saya juga mau melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri.”

Belajar dan berkarya

Nanda tak sendiri. Di ruangan berbeda, Zulmy Erian (28) juga tampak sibuk mengolah adonan. Pria ini tampak berhati-hati saat menakar bahan untuk adonan kue. Tangannya silih berganti dari menimbang telur, mengaduk gula, susu dan sejumlah bahan lainnya. “Ini sedang bikin adonan pie susu,” ujarnya.

Erian merupakan penyandang disabilitas ganda. Disabilitas intelektual sekaligus disabilitas daksa. Dia juga kesulitan berbicara. Tapi, hal itu tak menghalangi Erian untuk berkreasi. Ia bercerita, bahwa dirinya diajak oleh pengelola Kedaibilitas untuk bergabung sekitar dua tahun lalu. “Saya dulu nakal. Minum-minum, merokok,” ujar Erian mengenang.

penyandang disabilitas ganda, Zulmy Erian, 28 tahun. CNN Indonesia/Farid RahmanPenyandang disabilitas ganda, Zulmy Erian, bergabung dengan Kedaibilitas di Surabaya. (CNN Indonesia/Farid Rahman)

Ia melakukan itu sebagai pelarian karena kerap mendapat perlakuan kasar dari keluarganya. Ia bahkan sempat diusir oleh ibunya keluar rumah karena dianggap tak berguna.

Di jalanan, Erian bertemu banyak orang tak bertanggung jawab. Mereka mengajak Erian untuk mengemis dan meminta-minta. Orang-orang itu memanfaatkan kondisi fisik Erian untuk mengeruk keuntungan. Uang hasil mengemis Erian, kemudian digunakan oleh orang-orang itu untuk bersenang-senang, mengonsumsi minuman beralkohol, membeli rokok, dan hal-hal negatif lainnya.

Beruntung Erian bertemu pengelola Kedaibilitas. Erian kemudian diajak untuk belajar dan mengikuti bimbingan. Tapi karena pengaruh buruk yang ia dapatkan sebelumnya, Erian jadi tak betah, ia sempat kabur-kaburan. “Saya lari, ke warung kopi, merokok, enggak mau belajar,” ujarnya.

Tapi lambat lahun, Erian kemudian menyadari bahwa di Kedaibilitas lah ia seharusnya berada. Orang-orang di tempat itu, kata dia, bisa memperlakukannya sebagai manusia berdaya dan setara.

Kini dari hasil usahanya di Kedaibilitas, Erian mulai merasakan manfaatnya. Sedikit demi sedikit Erian mengumpulkan pundi-pundi dari hasilnya berusaha. “Nabung sedikit-sedikit, buat nikah,” cetus Erian, sambil tersenyum.

Infografis Salah Kaprah Istilah DisabilitasInfografis Salah Kaprah Istilah Disabilitas. (CNN Indonesia/Basith Subastian)

Para Penyandang Disabilitas Melawan Stigma

BACA HALAMAN BERIKUTNYA