+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

Pengamat: All Indonesian Final Bisa Terjadi di Olimpiade

pengamat-all-indonesian-final-bisa-terjadi-di-olimpiade-2

Pengamat: All Indonesian Final Bisa Terjadi di Olimpiade

Jakarta, CNN Indonesia —

Pengamat olahraga nasional, Djoko Pekik Irianto menyebut All Indonesian Final bisa terjadi di cabang olahraga bulutangkis di Olimpiade Tokyo 2020.

Djoko mengakui hasil drawing bulutangkis untuk Olimpiade Tokyo 2020 yang digelar Kamis (8/7) malam membuat ganda campuran dan ganda putra Indonesia harus ekstra kerja keras.

Tak dapat dimungkiri pula sektor ganda putra dan ganda campuran disebut Djoko masih menjadi tulang punggung Indonesia untuk bisa meraih medali emas di Olimpiade kali ini.


Dari hasil drawing diketahui bahwa wakil ganda putra yang jadi unggulan pertama, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon berada di Grup A dan bakal bertemu Lee Yang/Wang Chi Lin (Taiwan), Ben Lane/Sean Vendy (Inggris Raya),danSatwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty (India).

Sedangkan ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang jadi unggulan kedua berada satu grup dengan Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia), Choi Solgyu/Seo Seung Jae (Korea Selatan), dan Jason Anthony Ho-Shue/Nyl Yakura (Kanada) di Grup D.

Dari hasil itu, Djoko Pekik memungkinkan untuk terjadinya All Indonesian Final di Olimpiade Tokyo 2020 nanti. Hanya saja, peran dari tim pelatih dan psikolog dianggap sangat penting untuk mendukung penampilan mereka.

“Kemungkinan bisa terjadi. Mereka ada di peringkat bagus dan mereka punya pengalaman. Peran tim pelatih mengatur strategi bisa jadi kunci keberhasilan. Tidak hanya atlet yang berjuang di lapangan, tapi strategi jitu pelatih membaca peluang dan tim psikolog seperti apa. Sehingga harapan all indonesian final bisa terjadi,” ucap Djoko Pekik kepada CNNIndonesia.com, Jumat (9/7).

“Memang sejarah perbulutangkisan kita sampai sekarang masih bertumpu pada ganda campuran dan di ganda putra jadi back up, menurut saya. Melihat hasil drawing, kita harus berjuang cukup berat. Tapi menurut saya karena pengalaman sudah banyak, apalagi tim pelatih masih yang dulu sehinga akan mampu mengatasi semua itu dengan catatan mereka harus fighting betul,” kata Djoko menambahkan.

Ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan tidak tampil di turnamen internasional sejak 1,5 tahun lalu. (Arsip PBSI)

Di sisi lain, situasi Olimpiade kali ini cukup berbeda dibanding edisi-edisi sebelumnya. Pandemi Covid-19 membuat para atlet, khususnya Indonesia tidak tampil di berbagai turnamen internasional sejak 1,5 tahun lalu.

Hanya Kevin/Marcus dan Ahsan/Hendra yang terakhir main di All England 2021 pada Maret lalu. Meskipun baru satu pertandingan sebelum akhirnya dipaksa mundur karena kedapatan satu pesawat dengan orang yang positif Covid-19.

“Salah satu faktor kemenangan adalah kematangan, mental juara dan peak performance. Tapi itu bukan satu-satunya. Memang ada pengaruh tidak pernah tampil di turnamen internasional, tapi sekelas mereka saya pikir tidak terlalu signifikan pengaruhya.”

“Kedua, saya lihat kita bisa menggunakan aspek psikologi untuk melipat gandakan semangat mereka dengan momentum kejadian di All England kemarin. Kondisi kekecewaan itu justru bisa dimanfaatkan untuk ditukar menjadi sebuah balas dendam yang positif. Momentum itu harus bisa dimanfaatkan betul oleh pelatih untuk menutup kekurangan mereka yang tidak bisa mengasah kemampuan akhir di turnamen-turnamen itu,” jelasnya.

Tak hanya itu, musuh yang dihadapi para atlet nantinya juga bukan hanya lawan di lapangan, tapi juga hal non-teknis di luar pertandingan yakni virus corona.

Selain mempersiapkan strategi dan mental bertanding, atlet maupun pelatih juga diminta untuk jaga diri supaya tidak terpapar Covid-19 dan kondisi ini juga dialami semua tim.

Namun, Djoko Pekik memahami kekhawatiran para atlet dan tim ofisial terkait bahaya dan kemungkinan terpapar Covid-19 selama mengikuti Olimpiade Tokyo yang berpengaruh pada prestasi dan capaian mereka kelak.

“Itu manusiawi [khawatir], siapapun akan merasa cemas dengan kondisi ini. Tapi kondisi sekarang lebih bisa diterima dalam arti tidak terlalu menakutkan banyak orang gampang kena, tapi juga gampang sembuh. Pelatih tentu juga sudah memberikan back up untuk urusan medik yang buat mereka yakin aman,” ujar Djoko.

“Peran psikolog juga harus jadi fokus dan jadi penentu dalam kondisi seperti ini untuk meyakinkan para atlet bahwa mereka mampu dan mereka bisa. Tapi tetap harus waspada dan menerapkan protokol kesehatan ketat. Sebab, dari segi fisik, taktik dan teknik sudah punya finishing-nya dari psikolog dan pelatih,” ucap Djoko menambahkan.

Artikel ini Bersambung ke halaman berikutnya…

Ganda Campuran Indonesia Punya Sejarah

BACA HALAMAN BERIKUTNYA