+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

Penelitian PPIM: Narasi Konservatif Petunjuk Dominasi Siaran TV

Penelitian PPIM: Narasi Konservatif Petunjuk Dominasi Siaran TV

Jakarta, CNN Nusantara —

Was-was Pengkajian Islam dan Bangsa (PPIM)  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta   menyatakan riwayat keagamaan konservatif atau tekstual masih dominan menghiasi pancaran televisi , baik formal maupun digital.

Koordinator riset PPIM, Iim Halimatusa’diyah menyebut narasi konservatisme agama di televisi angkanya mencapai 46, 3 komisi. Disusul narasi moderat secara 33, 4 persen, liberal 0, 6 persen, Islamis 0, 4 persen, serta radikal 0, 1 persen.

“Jadi pada dasarnya faktual narasi yang banyak tumbuh itu konservatif lalu moderat, ” kata Iim pada paparannya, Kamis (30/4).


Iim menyuarakan pihaknya menganalisis 1. 010 video program keagamaan di 25 stasiun televisi, baik konvensional maupun digital sepanjang 2013-2019. Total video itu kemudian disarikan menjadi kira-kira 2. 500 teks dengan dianalisis untuk diklasifikasi.

Menurut Iim, narasi agama yang konservatif sedang dalam fase aman. Namun, posisinya lebih rentan untuk mendekati radikal.

“Meskipun tidak apolitis, tidak melanggar NKRI dan mengedepankan kekerasan kalau orang sudah punya pemahaman konservatif geser sedikit bisa lebih mudah, ” kata Iim.

Meski demikian, Iim mengatakan angka tersebut tak bisa digeneralisir, sebab sekitar 2. 500 teks dari 1. 010 video yang dianalisis belum mencakup semua program keagamaan di semua televisi, baik nasional, swasta, konvensional, maupun digital.

Selain itu, menurutnya, jumlah tersebut juga relatif lebih rendah dibanding narasi konservatif di media sosial yang angkanya mencapai 67 persen. Riset tersebut sebelumnya dirilis PPIM pada November 2020 lalu.

Iim meyakini rendahnya narasi konservatif di televisi karena diawasi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Menurutnya, KPI telah memiliki pedoman untuk mengawasi siaran agama di televisi.

“Yang memiliki pedoman penyiaran yang itu dijadikan arahan bagi KPI untuk memperhatikan. Dan itu dijadikan televisi ketika memproduksi program keagamaan mereka, ” katanya.

(thr/fra)

[Gambas:Video CNN]