+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

Pemda DIY Gandeng Hotel untuk Karantina Pekerja Migran dan WNA

pemda-diy-gandeng-hotel-untuk-karantina-pekerja-migran-dan-wna-1

Pemda DIY Gandeng Hotel untuk Karantina Pekerja Migran dan WNA

Yogyakarta, CNN Indonesia —

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta ( Pemda  DIY ) menggandeng sejumlah hotel di  wilayah tersebut buat penyediaan lokasi karantina Covid-19   warga negeri asing (WNA) atau  pekerja migran Indonesia (PMI) yang baru tiba sejak luar negeri.

“Kita memang menyediakan [hotel] untuk mereka yang melakukan penerbangan langsung dari luar negeri ke DIY lewat bandara YIA, ” kata Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji masa ditemui di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, Senin (17/5).


Menurut Aji, masyarakat yang baru saja datang di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), baik itu pekerja migran maupun WNA tetap menjalani masa isolasi semasa 5 hari di hotel sebelum melanjutkan  aktivitas.

“Jadi semuanya, harus 5 hari [dikarantina] atas biaya tunggal. Hotel-hotel itu sudah kerja sama dengan laboratorium dan sudah dicek sama Dinkes memenuhi persyaratan atau tidaknya, ” imbuh Aji.

Dikatakan Aji, mereka yang ditempatkan di hotel sebelumnya wajib dipastikan negatif Covid-19 melalui pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) di Rumah Sakit Umum Kawasan (RSUD) Wates, Kulon Progo.

“Yang minus langsung masuk karantina [hotel], yang positif merembes rumah sakit. Nanti lima hari berikutnya ada tes lagi PCR. Yang negatif boleh pulang, yang meyakinkan masuk rumah sakit, ” terang Aji.

“Yang positif maupun negatif biaya sendiri untuk PCR-nya. Tapi kalau sudah pasti, masuk ke rumah kecil atas biaya pemerintah, ” sambung dia.

Langkah ini diambil Pemda DIY  menetapkan mengantisipasi penyebaran Covid-19 melalaikan PMI maupun WNA. Terlebih, mencegah masuknya varian pertama virus corona ke Yogyakarta.

Terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono menyebut setidaknya ada 16 hotel di kolong naungan PHRI yang mengajukan penawaran bekerja sama dengan Pemda DIY dalam agenda karantina ini.

“Dengan syarat sudah mempunyai sertifikasi CHSE ( Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability ), ” kata Deddy masa dihubungi, Senin (17/5).

“Yang perlu diketahui, yang bisa masuk di hotel yang hasil swabnya negatif, ” sambung dia lagi.

Patuh Deddy, belasan hotel itu tersebar di beberapa wilayah kabupaten/kota di DIY. Indah yang berbintang maupun non-bintang.

Mereka era ini tengah menjalani cara verifikasi oleh Dinas Wisata dan Satgas Covid-19 masing-masing wilayah untuk pemenuhan kriteria tempat isolasi. Kendati ia tak menyebut akan ada berapa hotel nantinya yang dipakai sebagai fasilitas karantina.

“Lebih banyak biar nanti orang yang dikarantina memilih, mau dengan bintang atau non bintang, dengan budget berapa tempat bisa memilih. Jadi alternatif yang cukup banyak. Tapi hasilnya (verifikasi) kami belum mendapat laporan, ” imbuhnya.

Sementara dari PHRI tunggal memberikan syarat bagi hotel-hotel untuk bisa menyediakan wadah karantina yang terpisah dari pengunjung hotel lain.

“Tidak semua zona untuk fasilitas mereka [karantina]. Dan itu sistemnya blok, jadi disendirikan. Itu juga tidak boleh memakai fasilitas hotel seperti tambak renang, gym, dan yang lain. Mereka juga tidak bisa meninggalkan hotel, kita mengawasi, ” urainya.

PHRI di satu bagian tak menetapkan jumlah zona yang harus dipakai jadi lokasi isolasi. Hal itu bergantung pada standar masing-masing.

“Kita berharap momen ini bisa menjatuhkan okupansi hotel yang ada di DIY yang selama ini terpuruk karena pandemi Covid-19, ” tandas Deddy.

(kum/nma)

[Gambas:Video CNN]