+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

Pancaran Digital Indonesia Tertinggal Dibanding Malaysia

Pancaran Digital Indonesia Tertinggal Dibanding Malaysia

Pancaran Digital Indonesia Tertinggal Dibanding Malaysia

Jakarta, CNN Indonesia —

Kementerian Komunikasi serta Informatika ( Kemenkominfo ) mengatakan  penyiaran digital di Indonesia masih tertinggal bila dibandingkan negara tetangga kaya, Malaysia hingga Brunei Darussalam.

Staf Ahli Menteri Dunia Komunikasi dan Media Massa, Henri Subiakto mengatakan peralihan dari TV analog ke penyiaran digital atau Analog Switch-Off (ASO) ini sudah dilakukan beberapa negara karena TV analog dianggap boros frekuensi.

“Kita ini negara sederhana dalam hal ASO. TV yang ditonton di rumah itu analog. TV di Indonesia menghabiskan saluran, termasuk menyebabkan hp masyarakat   tidak sebaik di luar daerah, karena frekuensi broadbandnya dipakai rebutan dengan analog, ” kata Henri dalam webinar di Jakarta, Kamis (23/7).


Padahal frekuensi bisa dimanfaatkan buat berbagai keperluan lain untuk perkembangan ekonomi digital, termasuk untuk menyimpan internet cepat.

Henri mengatakan berbagai negara sudah menerapkan digitalisasi televisi. Belanda sudah menerapkan ASO sejak 2006. Sementara Inggris, Finlandia, Swedia dan Norwegia sudah sejak 2007.

Negeri lain juga telah menerapkan ASO di Jerman dan Swiss di 2008, Amerika (2009), Jepang (2011), dan Korea Selatan (2012). Kaum negara di Asia Tenggara pula telah menerapkan ASO.

“Tetangga kita Brunei saja sudah ASO pada 2017, Singapura 2019, Malaysia 2019, Vietnam, Thailand, dan  Myanmar akan ASO 2020 itu. Hanya Indonesia yang belum, ” ujar Henri.

Henri mengatakan hal penyiaran digital tidak hanya persoalan soal penyiaran, tapi juga menyangkut bagaimana memanfaatkan ekonomi komunikasi di masa depan & teknologi di masa depan.

Henri menjelaskan TV analog membutuhkan pita selebar 8 MHz untuk satu tumpuan televisi. Sementara pita selebar 10 MHz semestinya bisa digunakan untuk menggelar jaringan 4G yang mampu dipakai atau mencakup jutaan orang.

TV analog royal frekuensi sehingga frekuensi yang tersedia agar masyarakat bisa akses internet menjadi sedikit. Padahal saat ini di era digital, Internet betul dibutuhkan masyarakat.

Selain itu, secara keseluruhan TV serupa juga banyak memakan pita frekuensi di 700 MHz sebanyak 328 MHz. Padahal jika TV analog beralih ke digital, maka cuma dibutuhkan pita selebar 176 MHz. Sementara sisa pita selebar 112 MHz, bisa digunakan untuk tujuan lain.

Ditambah, Indonesia juga akan memiliki cadangan 40 MHz yang bisa digunakan buat perkembangan teknologi di masa pendahuluan. Kelebihan frekuensi ini menurutnya mampu menjadi dividen digital yang menjadi sumber keuangan negara.

“Sisanya bisa dimanfaatkan ke lainnya, digital dividen untuk streaming, untuk teknologi berbasis internet lain. Apalagi itu bisa hasilkan uang dengan besar untuk negara, ” tuturnya.

Henri mengatakan Indonesia bisa rugi mematok puluhan triliunan rupiah dalam satu bulan, jika tak kunjung memiliki dividen digital berupa spektrum saluran.

Terpisah, Menkominfo Johnny G. Plate meyakini migrasi ke TV digital dapat memberikan khasiat tidak hanya bagi industri pancaran namun juga bagi masyarakat.

“Percepatan migrasi ini ditujukan untuk menjaga koeksistensi dari industri itu, menjaga kepentingan konsumennya, membentengi juga kepentingan publik dari bagian pemanfaatan spektrum frekuensi yang lebih lebih baik, ” tuturnya di Program Newscast CNN TV, Jakarta, Senin (20/7).

Menteri Johnny menyatakan dengan bermigrasi dari analog ke digital, akan ada penghematan di spektrum frekuensi berupa dividen digital. 

Johnny mengutarakan dividen digital dapat dioptimalkan untuk menambah penerimaan negara yang gembung berupa penciptaan lapangan pekerjaan dengan luar biasa.

“Jadi, digitalisasi itu justru untuk menghindari agar industrinya tidak masuk ke masa terbenam. Ini untuk positif agar koeksistensinya bisa terjaga secara junior yang disebut dengan  Over The Top (OTT) Bussiness, ” jelasnya.

(jnp/eks)

[Gambas:Video CNN]