+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

Pakar Soal SIM C Moge Tak Tahun Ini: Ada PR bakal Polisi

Pakar Soal SIM C Moge Tak Tahun Ini: Ada PR bakal Polisi

Pakar Soal SIM C Moge Tak Tahun Ini: Ada PR bakal Polisi

Jakarta, CNN Nusantara —

Wacana kepolisian memecah Surat Izin Mengemudi ( SIM ) C menjadi tiga lingkungan didukung praktisi keselamatan berkendara. Walaupun begitu, wacana yang meliputi SIM khusus buat pengemudi moge   ini hingga sekarang belum terlaksana.

Tiga golongan SIM untuk mengemudikan sepeda motor faktual sudah memiliki landasan hukum, yakni Undang-Undang (UU) Lalu Lintas & Angkutan Jalan Nomor 22 Tarikh 2009 Pasal 77 tentang SIM dan Peraturan Kepala Kepolisian Bagian 9 tahun 2012, Pasal 7 huruf d.

Pada peraturan Kapolri tersebut diatur soal klasifikasi SIM C ke dalam tiga golongan yaitu SIM C untuk pengemudi motor dengan kisaran kapasitas mesin menyesatkan tinggi 250 cc, SIM C untuk pengemudi motor dengan kapasitas antara 250 cc sampai 750 cc, dan SIM C buat pengemudi dengan kapasitas mesin pada atas 750 cc.



Aturan itu kemudian diperkuat Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2017 tentang Jenis dan Tarif berasaskan Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berlaku pada Kepolisian Negara Republik Indonesia. Tertulis di sana tarif pembuatan SIM roda motor, yaitu SIM C (Rp100 ribu), SIM C1 (Rp100 ribu) dan SIM C2 (Rp100 ribu).

Meski sudah ada aturan mengenai hal tersebut, patuh praktisi keselamatan berkendara Jusri Pulubuhu, kepolisian tetap memiliki pekerjaan sendi untuk menerapkannya.

“Saya sih sangat setuju, tapi penuh hal kosong yang sebetulnya kudu dipenuhi dulu sama kepolisian sebelum memberlakukan hal itu, ” sirih Jusri saat dihubungi, Kamis (19/11).

Pertama, kata Jusri, dalam implementasi pembuatan SIM C moge, pemohon harus dipastikan benar-benar terlatih. Jangan sampai pemohon SIM tersebut datang hanya berdasarkan pengalamannya mengendarai motor bermesin besar.

Untuk memastikannya, Jusri mengutarakan pemohon perlu memiliki sertifikat dengan diperolehnya dari badan khusus laksana sekolah mengemudi.

“Nah untuk dapat SIM ini kita harus ngomong pelatihan, jangan orang datang karena pengalaman. Tapi itu harus di- endors sekolah mengemudi. Jadi dengan ngambil SIM harusnya sudah terlatih dan punya kredibilitas, ” prawacana dia.

Selain tersebut ia mengatakan tim penguji selalu harus berasal dari orang berkompeten untuk urusan berkendara menggunakan motor di atas 250 cc.

“Yang nguji nanti juga harus berkompeten dong, jangan sampai tak, ” kata dia.

Jusri juga mengatakan kepolisian perlu meningkatkan infrastruktur pengujian SIM istimewa moge tersebut.

“Nah tesnya gimana, motornya ada tidak, areanya ada tidak, tesnya juga dimana, dan pengujinya ada tak. Jadi ini bicaranya apa belakang secara nasional hingga ke level polres, atau hanya Jakarta, ” ucap Jusri.

Bertambah lanjut, Jusri berharap penggolongan SIM motor ini dapat meningkatkan kompetensi berkendara dan menurunkan angka bala di jalan raya.

Kepala Korlantas Polri Irjen Istiono sebelumnya sudah membaca penggolongan baru SIM C tak akan berlaku pada tahun itu.

Belum berlaku tahun ini, ” kata Kepala Korlantas Polri Irjen Istiono kepada CNNIndonesia. com , Kamis (19/11).

Kasubdit SIM Ditregident Korlantas Polri Kombes Jati menjelaskan alasan penundaan, yakni karena masih menunggu regulasi tambahan dengan sampai saat ini masih di proses pembahasan.

“Sementara belum karena kita masih menyiapkan regulasi tambahan ke dalam perpol, ” ujarnya.

(ryh/fea)

[Gambas:Video CNN]