+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

Ocehan Puan dan Jalan Terjal PDIP di Tanah Sumbar

Ocehan Puan dan Jalan Terjal PDIP di Tanah Sumbar

Ocehan Puan dan Jalan Terjal PDIP di Tanah Sumbar

Jakarta, CNN Indonesia —

Pernyataan Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDIP  Puan Maharani yang berharap  Sumatra Barat mendukung negara Pancasila berbuntut polemik. Hal itu disampaikan Puan saat mengumumkan pasangan bakal calon kepala daerah yang didukung PDIP di Pilkada Serentak 2020 pada awal September lalu.

Ketua DPR itu memberikan bahwa partai banteng moncong suci itu mendukung pasangan Mulyadi-Ali Mugni dalam Pilkada Sumbar.

“Untuk Provinsi Sumatera Barat, rekomendasi diberikan kepada Mulyadi dan Ali Mukhni. Merdeka! Semoga Sumatera Barat menjadi provinsi yang memang menolong negara Pancasila, ” katanya.


Puan pun dikritik kelompok lain dari PKS hingga Gerindra soal pernyataannya tersebut.

Pernyataan Puan juga sempat diadukan ke polisi oleh Persatuan Muda Mahasiswa Minang (PPMM). Namun keterangan itu ditolak karena kekurangan bahan bukti.

Belakangan, pasangan Mulyadi-Ali Mukhni, selalu batal mengikutsertakan PDIP sebagai kelompok pengusung untuk pemilihan gubernur di Sumbar. Hal itu tak terlepas dari kekecewaan tokoh masyarakat setempat dengan pernyataan Puan.

Faktor sejarah dan minimnya dukungan suara bagi PDIP di Sumbar sejak lama disebut menjadi pemicu sentimen di tanah Minang tersebut.

Pengamat politik Universitas Andalas Sumbar, Ilham Azre menilai, PDIP akan semakin sulit mengambil hati masyarakat Sumbar pasca pernyataan Puan.

“Kondisi tersebut akan semakin menyulitkan bagi PDIP sendiri, ” ucap Azre era dihubungi, Senin (7/9).

Azre menjelaskan, selain faktor cerita, PDIP sendiri selama ini tidak maksimal merangkul tokoh-tokoh Sumbar yang dekat dengan kalangan Islam maupun adat. Padahal karakter masyarakat Sumbar cenderung agamis meski tak terafiliasi dengan partai-partai Islam.

“Maka ada faktor historis, ada pula faktor internal dari PDIP sendiri yang kurang mengakomodasi, kalau bisa merangkul tokoh-tokoh yang mampu dekat dengan kalangan Islam, adat. Isu yang diangkat PDIP kendati nggak sesuai dengan karakter kelompok Sumbar, ” tuturnya.

Azre menilai, berkepanjangan yang dilalui PDIP akan semakin terjal untuk meraup suara di Sumbar jika tidak melakukan strategi khusus. Menurutnya salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan Baitul Muslimin, organisasi bagian keagamaan di partai yang dipimpin Megawati Sukarnoputri itu.

“Itu tidak pernah dihidupkan untuk merangkul masyarakat Sumbar, padahal mampu jadi penegasan bahwa PDIP sebenarnya bukan partai yang jauh daripada Islam. Ada irisan-irisan tertentu dengan PDIP bisa ambil ceruk suara ini karena selama ini kan mereka dianggap jauh dari Islam, ” jelas Azre.

Hal serupa disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin. Menurutnya, mayoritas masyarakat Sumbar sedang mengidentikkan PDIP sebagai partai dengan anti dengan tokoh-tokoh Islam. Sementara karakter masyarakat Sumbar masih betul agamis dan intelektual.

“Di sini PDIP harus bertambah gencar lagi, mendekatkan lagi, menawarkan konsep Islam yang ramah, ” ucapnya.

Ujang mengatakan, butuh usaha ekstra bagi PDIP untuk menggaet hati masyarakat Sumbar. Selain karakter umum Sumbar yang agamis, kekuatan kelompok lain juga cukup mendominasi di wilayah tersebut.

“Agak lama untuk menaklukkan masyarakat Sumbar karena partai lain juga pas kuat di Sumbar. Itu juga halangan bagi PDIP. Ke aliran makin sulit, butuh perjuangan membengkil, evaluasi strategis dan jitu buat menghadapi masyarakat Sumbar, ” terangnya.

Menurut Ujang, Puan harus segera meminta maaf biar persoalan tersebut tak semakin memperburuk hubungan PDIP dengan masyarakat Sumbar. “Kalau Puan tidak minta maaf akan jadi luka berkepanjangan bangsa Sumbar. Puan harusnya minta maaf, ” tuturnya.

(psp/ain)

[Gambas:Video CNN]