+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

MENYERANG 212 Ajak Umat Boikot Dai yang Ikut Sertifikasi Kemenag

MENYERANG 212 Ajak Umat Boikot Dai yang Ikut Sertifikasi Kemenag

MENYERANG 212 Ajak Umat Boikot Dai yang Ikut Sertifikasi Kemenag

Jakarta, CNN Indonesia —

Wakil Sekretaris Jendral  PA 212 Novel Bamukmin mengajak umat Islam memboikot  dai yang mengikuti program  sertifikasi penceramah yang diadakan Kementerian Agama .

“Kalau Kemenag paksakan maka jangan salahkan kaum, khususnya umat Islam, yang istiqomah akan agamanya melakukan perlawanan dengan pemboikotan terhadap dai-dai bersertifikat, ” kata Novel dalam keterangan resminya kepada CNNIndonesia. com .

Novel berpandangan bahwa program sertifikasi penceramah berpotensi menjadikan para ustaz dari kalangan Islam menjadi  orator yang menyampaikan dakwah dengan mengendapkan kebenaran dan menyesatkan.  



Ia serupa khawatir program tersebut justru mewujudkan para dai mendukung kekuasaan dengan saat ini dinilai tak berpihak kepada umat Islam.

“Walau saat ini wapresnya kiai, sudah sangat tidak berdaya yang diduga hanya dijadikan komoditas kebijakan atas nama agama demi kewibawaan justru menindas ulama dan syiar Islam, ” kata Novel.

Novel menilai para ustaz dan ulama hakikatnya adalah oposisi dari penguasa. Tugas mereka, cakap dia, mengkritisi dan mengontrol jalannya kekuasaan agar tidak semena-mena kepada  masyarakat dan tidak menyimpang sejak ajaran agama.

Karena itu, Novel meminta kepada Kemenag untuk menyetop agenda  program sertifikasi penceramah tersebut. Dia juga meminta  Kemenag untuk mewujudkan Fatwa MUI  Nomor 7 Tahun 2005 yang menentang pluralisme agama, liberalisme, dan sekularisme kepada para-para dai dan ulama.

“Bila Kemenang ingin mensertifikasikan para-para dai itu bisa saja yaitu bisa memberikan sertifikat kepada para-para ulama, dai, ustaz serta ajengan yang jelas tidak terjangkit keburukan pluralisme agama, liberalisme, dan sekularisme, ” kata Novel.

Wakil Sekretaris Jendral PA 212 Novel Bamukmin. (CNN Indonesia/LB Ciputri Hutabarat)

Lebih lanjut, Novel menilai masjid dan musala di Indonesia saat ini sebagian besar pendanaannya berasal dari swadaya umat Islam. Karena itu, sudah sepantasnya menjadi hak setiap pengurus masjid memboikot para dai yang mengikuti kalender sertifikat Kemenag tersebut.

“Bahkan bisa jadi mengusirnya, ” kata dia.

Rencana sertifikasi penceramah menjadi polemik pada tengah-tengah masyarakat belakangan ini. Beberapa ormas Islam seperti MUI & Muhammadiyah turut menolak program tersebut.

Kemenag sendiri akan melaksanakan program itu pada  September 2020 dengan menetapkan sekitar 8. 000 penceramah bersertifikat untuk tahap awal.

Dirjen Bina Masyarakat Islam Departemen Agama,   Kamaruddin Amin menjelaskan program penceramah bersertifikat yang mau digulirkan Kemenag berbeda dengan kalender sertifikasi profesi.

“Penceramah bersertifikat ini bukan sertifikasi pekerjaan, seperti sertifikasi dosen dan kiai. Kalau guru dan dosen itu sertifikasi profesi sehingga jika itu sudah tersertifikasi maka harus dibayar sesuai standar yang ditetapkan, ” kata Kamaruddin.

Kamaruddin turut memastikan penceramah yang tak memiliki sertifikat dari program itu masih tetap diperbolehkan berceramah pada tempat-tempat ibadah seperti biasa.

(rzr/pmg)

[Gambas:Video CNN]