+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

Menkominfo Ingatkan Opsel: Jangan Komersialisasi Jaringan 5G

menkominfo-ingatkan-opsel-jangan-komersialisasi-jaringan-5g-1

Menkominfo Ingatkan Opsel: Jangan Komersialisasi Jaringan 5G

Jakarta, CNN Indonesia —

Operator telekomunikasi ( Opsel ) diminta agar menaati peraturan dalam uji laik operasi (ULO) dan tidak melakukan komersialisasi bagi layanan seluler  5G sebelum mengantongi persetujuan komersial atau commercial operating permit.

“Operator seluler hanya diperbolehkan melaksanakan operasi komersial jika sudah mendapatkan commercial operating permit. Tapi kalau itu dipaksakan, itu aksi ilegal di bidang pertelekomunikasian nasional. Aku meyakini operator-operator selular kita sebagai perusahaan berkelas regional dan global tidak hendak melakukan hal itu, ” kata  Menkominfo Johnny G Plate  mengutip Antara , Senin (24/5).

Sebagaimana diketahui, para operator telekomunikasi penyedia layanan seluler saat tersebut sedang berlomba-lomba untuk melangsungkan uji coba operasional layanan 5G. Tercatat beberapa operator telah dan akan menyelenggarakan uji coba layanan teranyar ini.



Kominfo baru saja mengumumkan bahwa Telkomsel menjadi operator seluler pertama yang memperoleh izin menggelar layanan 5G di Indonesia. Hal ini sebab Telkomsel telah lolos di Uji Laik Operasi (ULO) yang dibutuhkan saat menerapkan teknologi baru.

Ketentuan untuk lolos ULO tercantum di dalam pasal 82 PM Kominfo No 1/2020 tentang Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi. Selain Telkomsel, operator lain yang berminat untuk menggelar layanan 5G adalah Indosat Ooredoo.

Senior Vice President Corporate Communications Indosat Ooredoo Steve Saerang mengatakan kalau saat ini pihaknya padahal berada dalam proses penyampaian ULO kepada Kominfo. Namun belum dijelaskan hasil tes coba yang telah dilakukan Indosat terhadap operasional servis 5G.

Telkomsel telah menjalani uji wajar operasi pada 19 maka 20 Mei 2021. Telkomsel memanfaatkan spektrum frekuensi 2, 3GHz untuk layanan 5G, yang didapatkan setelah mencuaikan lelang pada awal tarikh ini.

Spektrum frekuensi tersebut termasuk kategori middle band, berada pada rentang spektrum frekuensi 1 sampai 6GHz, dan mampu dimanfaatkan untuk jaringan mobile broadband.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan layanan 5G baru akan ideal jika dialokasikan bandwidth sejumlah 100MHz.

Heru mengatakan meski frekuensi tersebut bersifat netral, yakni mampu digunakan untuk berbagai layanan, namun itu berpengaruh di kualitas layanan yang hendak digunakan. Tentu konsumen tidak ingin mendapatkan layanan yang seadanya.

Oleh karena itu ia serupa mengingatkan agar pemberian ULO nanti dilakukan dengan jalan yang benar.

“Harus dipastikan 5G-nya belakang benar 5G, bukan 5G kaleng-kaleng agar masyarakat mampu layanan optimal, ” ujarnya.

(DAL/DAL)

[Gambas:Video CNN]