+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

Masturbasi pada Anak Tak Mampu Disepelekan

masturbasi-pada-anak-tak-bisa-disepelekan-1

Masturbasi pada Anak Tak Mampu Disepelekan

Jakarta, CNN Indonesia —

Bagi orang dewasa, masturbasi mungkin menjadi hal dengan lumrah. Tapi, bagaimana secara anak-anak yang melakukan masturbasi sejak dini?

Arus perkembangan teknologi yang tidak terbendung membuat bujang lebih rentan terpapar konten pornografi. Cuplikan ‘film biru’, atau tayangan iklan berbau seksual bisa jadi terlihat anak saat berselancar pada Internet.

Tidak hal yang tak kira-kira, anak jadi ingin melangsungkan hal berbau seksual, termasuk masturbasi.


Children see, children do . Kalau anak tahu sesuatu, dia cenderung mau melakukannya, ini yang bala kalau dia melihat konten pornografi. Apa dia maka ingin masturbasi? Bisa selalu, ” kata psikolog anak Ratih Zulhaqqi, saat dihubungi CNNIndonesia. com , Rabu (23/6).

Masturbasi sendiri sejatinya adalah berfantasi tentang ikatan seksual hingga mendapat kenikmatan atau pleasure.

Ketika menyadari bahwa masturbasi adalah hal yang elegan, ditambah dengan fantasi mengenai seks, anak bisa oleh sebab itu adiktif atau ketagihan masturbasi.

Saat masturbasi, anak akan berfantasi mengenai hal yang berbau erotis. Hal tersebut bisa membuatnya kesulitan berkonsentrasi, sulit memproduksi keputusan, dan sulit mempertimbangkan hal-hal lain di luar seksualitas.

“Konsentrasinya turun, dia jadi ingin terus nonton video porno, bahkan sampai hilang dorongan belajar, ” kata Ratih.

Video Porno Berperan Terhadap Pandangan Seksual Anak

Aktivitas seksual pada anak juga bisa berpengaruh pada bagaimana anak mereken hubungan seksual di zaman dewasa.

“Bagaimana anak memandang hubungan seksual itu lebih pada apa yang mereka tonton. Kalau impresinya menyenangkan, mereka akan menganggap hubungan seks menyenangkan, begitu juga sebaliknya, ” tutur Ratih.

Ilustrasi. Video porno berpengaruh terhadap prinsip anak terhadap aktivitas erotis di masa depan. (iStockphoto/sodafish)

Ketika ia menganggap aktivitas seksi merupakan hal yang menyenangkan, maka ia akan ketagihan dan terus menerus ingin melakukannya. Video porno berperan pada cara pandang anak tahu hubungan seksual.

Namun, jika video mesum menampilkan adegan seksual yang menampilkan kekerasan, maka pendirian anak terhadap hubungan seksual bisa ikut berubah.

Anak bisa jadi masturbasi dengan fantasi melayani kekerasan. Tanpa disadari, anak mungkin akan berpandangan bahwa hubungan seksual memerlukan kekerasan.

Anak dengan sudah terpapar dengan aktivitas seksual tersebut kemudian cenderung ingin melakukannya bersama jodoh atau adiknya. Ia agak-agak akan mengenalkan pada dunia pertemanannya tentang aktivitas erotis, tak terkecuali masturbasi.

“Efek yang itu yang harus jadi menghiraukan orang tua kalau anaknya terpapar konten pornografi, ” kata Ratih.

Selain menghasut perkembangan otak dan hati anak, masturbasi dini bisa membuat seorang anak menjadi hiperseksual.

Menurut Gardenia Junissa Siregar, psikolog di Primaya Hospital Jakarta, anak yang sering mengabulkan masturbasi akan punya rencana lebih besar untuk terus melakukan aktivitas seksual.

“Anak yang terpapar aktivitas seksual sebelum leler normal, akan menjadi hipersexual atau punya keinginan menyelenggarakan aktivitas seksual secara terlalu dan mengganggu aspek psikologisnya, ” kata Gardenia.

Anak juga mau terus menerus gelisah ketika tidak bisa melakukan kesibukan seksual hingga mengganggu arah fisiologisnya. Jika dibiarkan, budak yang terus masturbasi pra bisa mengganggu fungsi seksualnya saat dewasa nanti.

“Kepekaan titik rangsangnya akan melemah atau bangkit, ini akan berdampak pada efek orgasme yang benar cepat atau lama saat dewasa, ” katanya.  

Bahaya Paparan Konten Pornografi

BACA HALAMAN BERIKUTNYA