+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

Kapolri Minta Maaf soal Gaduh Penerbitan TR Larangan Mass media

kapolri-minta-maaf-soal-gaduh-penerbitan-tr-larangan-media-1

Kapolri Minta Maaf soal Gaduh Penerbitan TR Larangan Mass media

Jakarta, CNN Indonesia —

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo   meminta maaf atas kegaduhan yang timbul pascapenerbitan surat telegram terkait kegiatan kehumasan di Korps Bhayangkara.

Diketahui, salah satu poin dalam surat telegram itu memuat frasa ‘larangan bagi media’ untuk menampilkan kekerasan atau arogansi aparat saat bertugas.

“Sekali lagi mohon maaf atas terjadinya salah penafsiran yang membuat ketidaknyamanan teman-teman media, sekali lagi kami selalu butuh koreksi dari teman-teman mass media dan eksternal untuk perbaikan institusi Polri agar dapat jadi lebih baik, ” kata Listyo Sigit kepada wartawan melalui keterangan tertulis, Selasa (6/4).


Menurut dia, telegram tersebut semula diusung untuk membuat jajaran anggota kepolisian di bawahnya tidak bersikap arogan. Sehingga, kata dia, mereka menjalankan tugasnya sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.

Awalnya,   mantan Kabareskrim itu mengaku ingin pula mewanti-wanti anggota agar dapat bertindak tegas namun tetap mengedepankan sisi humanis dalam menegakkan hukum di masyarakat.

“Arahan saya ingin Polri bisa tampil tegas namun humanis, namun kami lihat di tayangan mass media masih banyak terlihat desain anggota yang arogan, dengan karena tolong anggota untuk lebih berhati-hati dalam bersikap di lapangan, ” ucap pria yang pula dikenal sebagai mantan ajudan Presiden RI Joko  Widodo  (Jokowi) tersebut.

Sesuatu itu, kata dia, tak lepas dari gerak-gerik ulah anggota yang selalu dipelototi masyarakat.

Dengan sebab itu, kata dia, perbuatan satu oknum  polisi dapat merusak citra Korps Bhayangkara secara keseluruhan. Dengan sebab itu, telegram tersebut semua ingin memperbaiki aksi kepolisian.

“Karena itu saya minta agar membuat arahan agar anggota lebih hati-hati saat tampil di lapangan, jangan suka pamer tindakan yang kebablasan dan malah jadi terlihat arogan, masih sering terlihat anggota tampil arogan dalam siaran liputan di mass media, ” kata Listyo.

Pada kenyataannya, penerbitan telegram tersebut  justru  menimbulkan perbedaan penafsiran di kalangan masyarakat. Dia menegaskan telegram itu tak memuat pelarangan media untuk meliput arogansi polisi di lapangan.

Namun, menurut Sigit, semangat sebenarnya dari telegram itu adalah pribadi dari personel kepolisian itu sendiri yang tidak boleh bertindak arogan.

“Jadi dalam kesempatan ini ya luruskan, anggotanya yang saya minta untuk memperbaiki sendiri untuk tidak tampil arogan namun memperbaiki diri sehingga tampil tegas, namun tetap terlihat humanis, ” kata dia.

Oleh sebab itu, dia pun langsung meminta agar telegram tersebut dikoreksi. Pasalnya, kata dia, Polri masih memerlukan kritik dari seluruh elemen masyarakat

“Oleh karena itu, saya telah perintahkan Kadiv Humas untuk mencabut STR tersebut, inch ucap Sigit.

Sebagai informasi, telegram tersebut dicabut tak sampai 24 jam berlalu usai diterbitkan. Pertama kali, Kapolri melalui Kadiv Humas Polri, Inspektur Jenderal Argo Yuwono meneken telegram bernomor ST/750/IV/HUM. 3. 4. five. /2021 pada Senin (5/4).

Keesokan harinya, telegram itu tersebar lalu menjadi perbincangan publik. Kritik tersebut kemudian melahirkan telegram baru yang isinya mencabut telegram sebelumnya.

(mjo/kid)

[Gambas:Video CNN]