+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

Diperiksa 12 Jam, 2 Jenderal Penjaga Akui Terima Suap Djoktjan

Diperiksa 12 Jam, 2 Jenderal Penjaga Akui Terima Suap Djoktjan

Diperiksa 12 Jam, 2 Jenderal Penjaga Akui Terima Suap Djoktjan

Jakarta, CNN Indonesia —

Irjen Pol.   Napoleon Bonaparte dan Brigjen Pol. Prasetijo   disebut mengaku menerima suap dari Djoko Soegiarto Tjandra   dalam kasus penghapusan red notice saat terpidana kasus korupsi hak tagih (Cessie) Bank Bali tersebut buron sejak 2009.

Hal itu diungkapkan usai tim penyidik melakukan pemeriksaan selama 12 jam terhadap dua perwira tinggi Polri itu pada Selasa (25/8).

“Kemarin sudah kita sampaikan bahwasanya tersangka Djoko Tjandra menyampaikan telah menyerahkan uang kepada tersangka, yang lainnya juga demikian, sudah kita lakukan pemeriksaan dan telah mengakui menyambut uang tersebut, ” ujar Awi kepada wartawan di gedung Bareskrim, Selasa (25/8) malam.


Tim penyidik kembali melakukan penyeliaan terhadap tiga tersangka kasus suap penghapusan red notice Djoko Tjandra pada Selasa (25/8).

Selain Napoleon dan Prasetijo selaku penerima, tim penyidik juga menyelia pengusaha Tommy Sumardi selaku sponsor bersama Djoko Tjandra.

Red notice adalah notifikasi Interpol untuk mencari buronan kejahatan pada permintaan yang menjadi negara anggota. Total empat orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kejadian ini.

Kepada ketiganya, tim penyidik total mengajukan 180 pertanyaan selama kurang lebih 12 jam pemeriksaan sejak pukul 8. 00 sampai dengan 21. 00 WIB.

Dari total 180 pertanyaan itu, Irjen Napoleon disebut Awi menerima paling banyak pertanyaan oleh awak penyidik dengan 70 pertanyaan. Cerai-berai, Tommy Sumardi dicecar 60 perkara, dan Brigjen Prasetijo dicecar 50 pertanyaan.

Terkait jalan dana kepada Napoleon dan Prasetijo, Awi menjelaskan, tim penyidik sedang melakukan pendalaman dengan memeriksa sebanyak saksi untuk mencocokkan keterangan dengan didapat tim penyidik. Hingga kini, Awi menyebut tim penyidik sudah memeriksa 16 saksi dan utama ahli hukum pidana untuk dimintai keterangan.

Belakangan, tim penyidik juga akan memeriksa Jaksa Pinangki dalam kasus tersebut. Pinangki sendiri telah ditetapkan sebagai simpulan dalam kasus lain, yakni pemberian janji hadiah senilai Rp7 miliar dari Djoko Tjandra pada November 2019 lalu.

“Kalau itu berupa transfer atau cash and carry, tentunya nanti semuanya akan didalami sebab penyidik dan itu akan terkuak semuanya di pengadilan nanti, ” katanya.

Kendati serupa itu, Awi enggan mengungkapkan jumlah kekayaan yang diterima Napoleon dan Prasetijo dari Djoko Tjandra. Dia sejumlah, hal itu sesuai pasal 17 Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik, di mana tak semua informasi mampu disampaikan ke publik.

(thr/wis)

[Gambas:Video CNN]