+01 452 4587254
8108 W. Saxon Street

Asdianto Baso Klaim Tak Terlibat Penjualan Pulau Lantigiang

asdianto-baso-klaim-tak-terlibat-penjualan-pulau-lantigiang-1

Asdianto Baso Klaim Tak Terlibat Penjualan Pulau Lantigiang

Jakarta, CNN Nusantara —

Simpulan jual beli Pulau Lantigiang   yang beruang di kawasan konservasi Taka Bonerate, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan , Asdianti Baso membantah dirinya tak memenuhi panggilan penyidik Polres Selayar.

Asdianti tunggal telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Polres Selayar setelah tiga kali mangkir pemeriksaan. Pihak kepolisian menyimpulkan Asdianti melarikan diri.

“Panggilan pertama pihak penjaga sudah tau kalau hamba berada di Dubai. Seruan kedua saya tidak penuhi karena positif Covid-19, oleh sebab itu tidak bisa pulang ke Indonesia. Ini oknum kepolisian Selayar memang sudah keterlaluan dan juga pihak Bangsal Taman Nasional, ” cakap Asdianti, Jumat (30/4).


Asdianti menyanggah terlibat dalam kongkalikong pemasaran dan pemalsuan akta kepemilikan lahan Pulau Lantigiang. Ia mengaku tak akan status diam setelah ditetapkan sebagai tersangka dan menjadi DPO.

“Saya dituduh tersangka dan dijadikan DPO, saya tidak akan pasif karena semua yang dituduhkan kepada saya itu tidak benar, ” kata Asdianti.

Asdianti mengklaim dirinya cuma sebagai korban dalam penjualan Pulau Lantigiang ini. Ia mengaku telah mengalami kemalangan materiel yang sangat banyak pada kasus ini.

“Saya sudah siapkan praperadilan. Rencana hari tersebut akan didaftar dan meminta sidang terbuka untuk umum biar masyarakat luas tau dan jelas jalannya sesi, ” ujarnya.

Lebih lanjut, Asdianti mendakwa Polres Selayar terlalu mengeklaim kasus ini lantaran dirinya dianggap ikut terlibat di dalam pemalsuan dokumen akta otentik surat kepemilikan tanah pada atas lahan Pulau Lantigiang.

“Saya tak kenal dengan semua dengan tanda tangan di tulisan kepemilikan dan tidak pernah ketemu. Kecuali Pak Syamsul Alam yang mengaku mempunyai lahan. Akta otentik ialah akta yang dibuat & dipersiapkan oleh notaris, ” katanya.

Asdianti mengakui sudah membuat perjanjian dengan Syamsul Alam, yang memiliki tanah di Pulau Lantigiang. Di perjanjian itu, ia menyampaikan uang panjar pembelian tanah di pulau tersebut sebesar Rp10 juta.

Menurut Asdianti, dirinya mengambil lahan di Pulau Lantigiang itu karena ingin membentuk pariwisata di Kepulauan Selayar dan meningkatkan roda perekonomian masyarakat setempat.

Asdianti pun berharap Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar menyerahkan perhatian terhadap dirinya dengan ingin mengembangkan pariwisata. Ia juga meminta masyarakat Selayar dapat membuka mata di dalam kasus ini.

“Saya yakin ada perseorangan oknum tertentu yang mau membatalkan proyek saya di kampung sendiri, padahal Nusantara ada 17. 000 Tanah yang cantik yang bisa di kembangkan dan mampu dimanfaatkan, ini kan mampu membangun lapangan kerja untuk masyarakat Selayar, ” ujarnya.

Sebelumnya, Polres Selayar menetapkan tiga tersangka dalam kasus penjualan Pulau Lantigiang itu. Para tersangka itu yakni, keponalam Syamsul Alam, Kasman; Kepala Desa Jinato, Abdullah; dan Asdianti Baso selaku pembeli lahan.

Pulau disebut bakal dijual seharga Rp900 juta. Dikutip dari tntakabonerate. com, Tanah Lantigiang yang masuk pada pemerintahan Desa Jinato memiliki luas sekitar 10 hektare.

(mir/fra)

[Gambas:Video CNN]